'Tergugah' oleh tulisan tentang 'komedi fisik' di televisi pada koran Minggu kemarin:
Bajaj Bajuri bukan hanya berhasil menggali cerita yang sangat Indonesia, program ini pun sempat meraih pencapaian fenomenal dari segi jumlah penonton. Tentu dengan pengecualian Si Doel Anak Sekolahan dan kemudian, Si Doel Anak Gedongan, yang perolehan rating/share-nya sampai detik ini, belum tertandingi. Bajaj Bajuri sempat berkuasa selama tiga tahun, kemudian dipecah dalam versi baru; Bajaj Bajuri Baru dan Salon Oneng. Lalu RCTI menyusul dengan sitkom OB yang terbilang sukses, kemudian ada lagi Ujang Pantry, Suami-Suami Takut Istri, Tawa Sutra, dan Cagur Naik Bajaj di Starantv.
Seperti pernah dikemukakan tokoh periklanan Jepang, Masako Okamura, masyarakat Indonesia menyukai humor (Behind The Scene, Oktober, 2006). Humor yang terbilang jarang digunakan sebagai selling point dalam iklan lokal. Iklan dengan unsur humor sambil menggusung nilai lokal yang kuat, ‘Geng Ijo’-nya rokok Dji Sam Soe, adalah satu-satunya iklan televisi yang berhasil membuat saya urung berpindah channel.
Tahun 2009 yang belum-belum sudah dirumpiken akan menjadi tahun yang sulit, acara hiburan tentu semakin dibutuhkan. Bila tidak sedih sekali sampai membuat penonton merasa menemukan identifikasi penderitaan mereka, tentu yang komedi sekali. Pertanyaan, mampukah celah kesempatan yang terbuka demikian lebar ini, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pihak kreator televisi? Satu hal yang bisa dirasakan dari berbagai sitkom di televisi nasional, adalah sulitnya menemukan situasi komedi yang bukan asal ditempelkan, mengikuti metode yang umum diterapkan film-film barat, baik Hollywood mau pun keluaran Eropa. Seperti tampak pada sitkom produksi TransCorp., Suami-Suami Takut Istri, di mana unsur ekspresi serta fiksi yang digunakan dalam menciptakan situasi komedi tidak berbeda dari gaya sosok Mister Bean atau Jim Carey.
Situasi komedi dalam film layar lebar condong diciptakan dalam bentuk aksi, jarang sekali menggunakan dialog. Ada pun kelucuan yang tercipta dalam bentuk dialog umum terlihat dalam ‘dagelan’ khas Betawi yang, meski tidak dashyat sekali mengundang tawa, menawarkan ciri dan bentuk kecerdasan tersendiri. Walau pun memang komedi yang diterapkan pelawak-pelawak made in Indonesia bukan tidak lepas dari kekurangan. Seperti pernah diungkapkan Garin Nugroho (Kompas Minggu, 2007), orang Indonesia cenderung senang mendengar kekurangan fisik orang lain diolok-olok. Sehingga Tukul dan Mandra yang berbibir mancung berhidung pesek bisa kaya raya karena faktor penampilan yang ampuh mendatangkan tawa.
Awal sembilan puluhan kala Jojon, Gepeng, dan Bagito bersaudara lewat acara BaSo sedang mencapai puncak ketenaran, acara komedi berdurasi dua puluh empat menit rata-rata adalah favorit stasiun televisi. Secara tipe tak jauh berbeda dengan Extravaganza yang kini ditayangkan TransTV. Hanya saja kalau Extravaganza banyak melibatkan improvisasi aksi, Bagito Show serta program-program lawak senior atau seangkatan cenderung mengandalkan penceritaan yang dibangun dari kekuatan kata-kata. Para pelawak bersandiwara, beradu kata-kata, atau dalam kasus Bagito melontarkan sindiran satir berkenaan dengan masalah pemerintahan.
Konon Extravaganza tidak jauh berbeda dengan konsep Saturday Night Live. Program televisi yang telah bertahan puluhan tahun di televisi Amerika. Saturday Night Live yang banyak mencetak sosok-sosok mapan setelah meninggalkan program tersebut, sebutlah; Tina Fey kreator 30 Rock yang memenangkan Golden Globe, Ben Stiller (menyutradari Tropic Thunder, 2008), Adam Sandler, serta lusinan nama-nama lain.
Sepuluh tahun berlalu dan program-program komedi yang memilih menciptakan situasi lucu melalui ekspresi-aksi tengah mendominasi. Bukan maksud mengatakan bahwa komedi melalui kemampuan memainkan kata-kata hanyalah ciri Indonesia semata, komedi panggung, atau pelawak menceritakan lelucon-lelucon dengan hanya berbekal mikrofon di panggung kafe-kafe komedi, konon adalah tradisi yang dimulai di negeri Paman Sam. Sementara di Indonesia, pertunjukan ketoprak, ludruk atau wayang sah-sah saja disebut sebagai hiburan ‘komedi tempo doeloe’ yang sifatnya Indonesiana, yang berarti komedi dengan penekanan aksi sejak dahulu kala telah dipraktikkan di negara kita.
Inti masalah bukan mana yang mengikuti mana, atau pun mana yang lebih Indonesia, perkaranya, komedi dengan penekanan aksi-reaksi bila sudah terlalu sering digunakan bisa menyebabkan kelelahan serta membuat penonton merasa apa yang ditampilkan terasa terlalu dibuat-buat. Apalagi mengingat beberapa adegan yang diperlihatkan dalam program komedi masa kini, tampaknya menggunakan pola komedi yang bisa ditemui pada film-film Hollywood. Misalnya, penekanan ekspresi komedi pada Suami-Suami Takut Istri, adegan sengaja tak sengaja pada Tawa Sutra, sikap percaya diri berlebihan pada (ex) OB, dan tentu saja, satir teatrikal Extravaganza yang merupakan Saturday Night Live versi Indonesia.
Minggu, 08 Februari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)