Era 2000 awal. Ketika reality show Katakan Cinta naik daun, keberhasilan reality show tersebut lalu diikuti oleh sejumlah reality show yang rata-rata dijadwalkan sore hari pada akhir pekan; Playboy Kabel, H2C, dan kemudian dalam perkembangannya; Nikah Gratis dan Bedah Rumah. Seiring dengan itu, Indosiar mencatat sukses meluncurkan Akademi Fantasia, yang diikuti Indonesian Idol hasil kerja sama RCTI dengan rumah produksi Fremantle. Begitu berhasilnya program-program ini, sampai TPI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia saat itu yang tegas-tegas membidik sasaran kelas menengah ke bawah, mewajibkan diri turut serta dalam ‘arena’, menciptakan Kontes Dangdut Indonesia dan Akademi Pelawak Indonesia, yang kental oleh rasa lokal.
Tren bukan hanya kata yang umum mengisi halaman mode majalah wanita. Tren acara merupakan salah satu rumus sukses program televisi. Baik pertelevisian Indonesia mau pun yang keluaran ‘pabrik’ Amerika, tak bisa tidak tersentuh oleh tren. Lihat saja bagaimana reality show di Amerika telah berkembang semenjak MTV Real World (1992) diproduksi pertama kali. Kini telah lusinan konsep dan judul reality dapat disebutkan dengan mudah; MTV Cribs, The Hills, The Newlywed, Punk’D, Room Raiders, The Osbourne dan banyak lagi.
Satu acara dalam konsep baru diluncurkan, sukses, tak lama akan diikuti program-program serupa dengan judul berbeda. Demikian biasa terjadi. Hanya saja, bila kesuksesan satu konsep acara hanya berlangsung secara semusim di Indonesia, tidak demikian halnya yang biasa terjadi di negara-negara lain.
Seperti disebutkan di atas, The Real World yang pada tahun 1992 memulai produksi dengan memotret kehidupan tujuh orang pemuda yang tinggal di New York, telah dibuat lebih dari dua puluh musim serta melakukan shooting di sembilan belas kota selain New York, termasuk London, Paris serta Sidney. Adalah kesuksesan The Real World (yang sebenarnya bukanlah reality show pertama dalam sejarah televisi), yang ‘mengawali’ berbagai produksi reality show yang sekarang banyak kita saksikan. Dan bukan hanya didominasi MTV. Mulai dari E! Channel sampai Discovery Travel and Living, sampai stasiun televisi nasional di Indonesia, sempat mengalami dominasi reality show dalam jadwal acara mereka.
Di Indonesia, Akademi Fantasi Indosiar mengakhiri masa jayanya setelah musim kelima. Katakan Cinta dan Nikah Gratis yang sempat mendominasi perolehan rating/share program televisi, telah lama mengakhiri masa tayang. Memang, Bedah Rumah kini ditayangkan kembali di layar RCTI, tapi sampai berapa lama akan bertahan? Dan lagi, mengapa setelah masa kejayaan reality-reality ini, program dengan format serupa hilang dari jadwal tayang kanal-kanal televisi yang justru makin bertambah jumlahnya?
Stasiun-stasiun televisi di negara kita memang taat sekali mengikuti musim yang berganti. Begitu taatnya, sampai-sampai ketika datang ‘musim’ inovasi acara terbaru, tidak ada lagi yang mau repot-repot me-maintain program sebelumnya. Segera stasiun-stasiun televisi berlomba menayangkan program terbaru yang menurut laporan share/rating Nielsen, konsepnya tengah digemari. Program yang sebelumnya tayang secara hingar bingar mengisi jadwal acara dibiarkan terbengkalai dan pelan-pelan digantikan oleh program yang baru.
Pertanyaan, apa yang akan terjadi bila kondisi serupa terus dipertahankan? Masalah stasiun televisi kita bermuara pada tidak adanya karakteristik khusus dari masing-masing stasiun televisi. Ibarat sebuah tim sepak bola, kekurangan dan kelebihan dari para anggota tim niscaya dapat saling melengkapi. Justru ketika sebuah tim diisi lebih banyak diisi oleh atlit superior maka tim tersebut malah kesulitan bekerja sama dan akhirnya, mengalami kekalahan beruntun.
Kalau boleh beranalogi, umpamanya adalah tim AC Milan pada awal dekade sembilan puluhan. Tim yang pernah mencetak record 58 kali tak terkalahkan, pada musim berikutnya sempat mengalami kemerosotan prestasi setelah pada suatu musim habis-habisan ‘mengimpor’ pemain-pemain terbaik dunia dengan ego besar dan kerja sama tim yang minim. Alih-alih meraih kemenangan demi kemenangan, Milan secara beruntun didera kekalahan. Walau pada akhir musim tetap keluar sebagai juara liga dengan berkali-kali mengorbankan Jean Pierre Papin ke bangku cadangan.
Rumus pertelevisian kita kini; tunggu sampai penonton bosan baru suguhi inovasi terbaru untuk kemudian ramai-ramai diikuti stasiun televisi yang lain, saatnya ditinggalkan. Dengan persaingan antar stasiun yang demikian sengit, karakteristik yang memungkinkan stasiun televisi menyaring jumlah kompetitor dan dengan begitu bisa lebih fokus menayangkan program-program berkualitas, sangat diperlukan.
Karakteristik pula yang kiranya dapat mencegah program-program televisi bagus dan menghibur hanya bertahan beberapa musim untuk kemudian menghilang sama sekali dari layar televisi. Sebab kebosanan penonton kiranya juga dipacu oleh ‘booming’ program yang membuat mereka merasa disuguhi jenis acara yang sama secara beruntun tak kenal jeda tak kunjung usai.
Selasa, 20 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar